Selasa, 26 Januari 2010

Memori

Beberapa hari lalu saya membeli buku jadul, bacaan saya waktu anak anak, seri Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu karangan Enid Blyton.
Ceritanya waktu pulang kantor naik kereta Pakuan, saya berjalan di koridor dekat stasiun (mau naik angkot, soalnya suami lagi di luar kota)...tidak sengaja mata saya tertumbuk pada penjual buku loak diamana pada salah satu tumpukannya adalah buku anak anak jadul Lima Sekawan..... Wow...sungguh surprise...sudah lama saya mencari buku bacaan lama seperti itu tapi belum pernah ketemu. Bahkan pernah saya tanya ke teman yang kerja di Gramedia, jawabannya buku2 tsb sudah tidak dicetak lagi.
Tanpa berpikir lama saya mengaduk buku bacaan jadul tersebut dan ketemulah ada beberapa buku yang sangat populer pada masa itu (setidaknya sangat membekas .bagi saya pribadi). Akhirnya saya beli 2 buku....yang saya pilih adalah seri Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu. Sebenernya masih ada buku2 jadul yang lain seperti Si Badung, Pulung, Noni juga beberapa lagi, tapi saya pilih cuma dua seri itu dan cuma ada 2 buku..... kebetulan memang karya Enid Blyton itu paling favorit

Adakah diantara anda yang tidak punya memori masa lalu....saya rasa semua memilikinya entah menyenangkan atau sebaliknya. Saya termasuk orang yang mudah terbawa memori ….........apalagi memori masa kanak-kanak. Jadi walaupun 2 buku itu belum sempet dibaca, dalam perjalanan pulangpun saya terbawa lamunan masa lalu.....Indahnya masa kanak- kanak saya....
Teringat masa masa itu ...sebagai anak anak keceriaan, kegembiraan mewarnai hari hari....sebagaimana umumnya anak anak yang belum terbebani dengan masalah. Bermain, tertawa, belajar, mengaji, dan tentu saja melakukan hobi........membaca buku.
Anda yang terlahir di era '70-an seangkatan dengan saya tentu mengenal bacaan yang populer saat itu dan tokoh tokoh yang ada di dalamnya. Entah mengapa bacaan dalam buku2 seperti karya Enid Blyton tersebut begitu membekas dalam pikiran saya. Sungguh nikmat membaca petualangan Lima Sekawan di kamar tidur , (sambil tiduran biasanya....makanya mata saya jadi minus) tergambarlah dalam benak saya apa yang tertulis dalam bacaan....padang rumput nan indah , pulau indah, liburan sekolah, rumah yang hangat dan nyaman, makanan yang lezat semuanya otomatis tergambar. Hehe....Sepertinya sangat menyenangkan dan nikmat sekali apa yang mereka jalani. Dan serunya itu lo.......bikin penasaran kejadian akhirnya, so pasti para tokohnya pasti menang.
Saya teringat kalo sudah membaca buku bacaan (tidak cuma karya Enid Blyton)........tidak bisa diganggu gugat bahkan ibu sampe jengkel karena harus manggil manggil mengingatkan untuk mandi, makan dll (maaf ya Bu.....). Tidak cuma saya, adik laki laki saya juga gemar membaca buku, persis plek . Untungnya kami berdua tidak pernah berantem untuk urusan membaca buku, sadar untuk antri bergantian membaca, dan ada perjanjian tidak tertulis bahwa yang membaca duluan tidak boleh membocorkan akhir cerita. (iya kan ga seru bacanya kl dah diceritain duluan...)
Ingatkah anda tahun2 itu televisi cuma ada TVRI, radio cuma RRI ...tidak banyak pilihan hiburan untuk kita saat itu, tempat2 hiburan anak juga tidak ada seperti saat ini yang menjamur. Apalagi keluarga saya tinggal di desa karena Bapak ditugaskan di Perhutani yang ada di daerah bukan di kotanya. sunyi dan sepi. Maka sebagai anak anak kita mencari hiburan sendiri2....(tul gak)...entah main sepeda, main pasar2-an, petak umpet, bola bekel, monopli, perang2an, engklek (bhs Indonesianya apa ya?) dll. Nah...baca buku juga hiburan yang sangat menyenangkan, makanya kalo sednag libur sekolah dan tidak ada bahan bcaan rasanya garing. Alhamdulillah kedua orang tua dan kakak2 saya sangat baik dan pengertian, kalo kebetulan Bapak lagi dinas ke kota (Semarang, Tegal dll) pasti ada saja buku bacaan oleh oleh untuk kami. Begitu juga kakak saya yang sudah kuliah di Yogya , kalo pas liburan oleh olehnya ya buku bacaan anak2, Bahkan pernah juga kami punya 2 buku bacaan yang sama karena yang membelikan nggak ngeh....


Oya....kami juga berlangganan majalah Bobo. Boleh dibilang itu adalah bacaan wajib kami sejak bisa membaca hingga masuk SMP . Majalah mingguan tsb benar2 kami nantikan karena minimnya bacaan di desa. Dan tidak sampai satu hari majalah tersebut sudah habis kami lahap.
Ingat cerita Deni si manusia Ikan, seru banget ya............Deni mencari cari orang tuanya tapi nggak berhasil berhasil, susah sekali , ada saja kejadian yang menggagalkan pertemuan mereka. Atau cerita Juwita dan Si sirik yang sampe sekarangpun masih ada, bahkan saya juga menceritakannya kepada anak anak saya.. Dan tentu saja keluarga kelinci yang lucu lucu....Bobo, Coreng, Upik, Tut tut, Kutu Buku, Bapak/Emak, paman Gembul, Bibi Tutup Pintu, Bibi Titi teliti, oya da juga si Dung dung
Bukan cuma majalah Bobo, sering juga oleh bapak kami diberi oleh majalah lain seperti Ananda, si Kuncung atau bacaan lain seperti karya Grim bersaudara, Hans Christian Andersen dll. Sangat jarang Bapak/ibu dan kakak membelikan yang lain seperti baju atau mainan. Buku bacaan adalah oleh oleh yang sangat kami nanti nantikan.
Saking banyaknya bacaan koleksi kami,..suatu ketika kami mendirikan Perpustakaan kecil di rumah, buku bacaan kami sewakan dengan tarif tertentu. Pelanggannya ya teman teman saya, teman adik, anak anak tetangga. Cukup laku juga perpustakaan kami, banyak teman teman yang meminjam buku bacaan.. Sayangnya banyak yang tidak bertanggungjawab, pinjam buku tapi tidak kembali lagi atau pinjam dalam jangka waktu lama tp buku kembali dalam keadaan rusak. Huhhhh sedih dan jengkel rasanya, kok tidak bisa menghargai buku.... ya.
Kembali ke buku yang saya beli di loakan ….........walaupun itu buku jadul tetap nikmat juga membacanya, kapan kapan saya akan cari lagi.


Jakarta, 21 Januari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar