Selasa, 30 April 2013

Percakapan kecil dengan anak anak.

Berikut beberapa percakapan lucu dan polos khas anak anak (Saya = I /Ibu, Anak pertama = A1, Anak kedua = A2)
I. Suatu ketika I membacakan tulisan di majalah Bobo mengenai cacing tanah.
 I : Jadi tidak usah takut dengan cacing tanah, karena cacing banyak manfaatnya untuk kita A1: Bisa menyuburkan tanah ya Bu I : menggemburkan tanah...
 A1: Cacing kan di dalam tanah terus ya Bu..
I : Iya...
 A1: Emang didalam tanah terus matanya gak kelilipan apa
 I : @###???? (buru buru cari penjelasannya)

 II. A1 pernah sakit typus sewaktu masih di TK dan sempat kambuh cukup parah semasa kelas 1 SD karena itu I berusaha memberikan pengertian mengenai pentingnya berhati hati dalam mengonsumsi makanan/jajanan
 I : …...... (penjelasan panjang lebar mengenai bahayanya jajan sembarangan) itu makanan yang dipinggir jalan kan terkena banyak debu, belum lagi banyak lalat yang hinggap..lalat kan hinggap ke tempat tempat yang kotor
A1 : kalau di abang yang suka lewat bu
I : harus hati hati juga...kan suka nggak ditutupi juga jadi kena debu dan mungkin dihinggapi lalat. Oya mungkin juga si abang masaknya nggak bener....
A1 : atuh ..ibu...kasian si abangnya ..nanti nggak ada yang beli!!
I : @@@#####????

 III. Menjelang tidur I sering menemani A1 dengan mendongeng, membacakan cerita ataupun sekedar ngobrol. Saat itu yang ingin disampaikan adalah mengenai hidup dan mati, bahwa Allah yang Maha Pencipta dan menentukan hidup mati makhluknya
 I : ….jadi semua orang nantinya akan mati nak...
A1: ibu juga??
 I : iya....kan semua orang dan semua makluk akan mati
A1 : aku juga Bu?
I : iya...
 A1 : dimana aku mati nanti? Di sini...? (sambil menunjuk kasur)
 I : kita nggak tau nanti mati dimana karena hanya Allah yang tahu
A1 : tapi asyik ya Bu kalau kita mati
 I : lo kenapa...???
A1 : iya kalau kita mati, nanti disana kan kita bisa melihat gmn Allah nyiptain manusia...
 I : @##$$$$ ???

IV. Malam itu I dan A2 sedang bermain dan bercanda
 I : Dik, sekarang panggilnya jangan ibu ya...
A2 : Apa dong bu?
 I : Kalau Bunda gitu gimana...?
 A2 : Iya bagus...Bunda sama Pan...da (sambil nyengir lihat ke ayahnya)
I : he hehe

Outbond Pertama

(Tadinya cerpen ini mau saya sertakan dalam lomba Rinso Cerita di Balik Noda, tapi saya pikir kok kurang inspiratif ya. Jadi ragu ragu. Masukkan saja ke Blog dah...untuk memacu Farras menulis juga).

“Assalamualaikum....” terdengar sapaan dari luar disusul bunyi pagar berderit dibuka. Ahhh si kakak sudah pulang rupanya. Buru buru kusambar kerudung dikursi makan lalu bergegas keluar. “ Waalaikumsalam....kakak sudah pulang ...capek ya Nak”, kusambut si kakak di depan pintu.
“ya capek lah Bunda....kan sekolahnya dari pagi” si kakak menjawab sambil menyeret tasnya ke kamar. Aku cuma geleng geleng kepala. Gimana nggak cepet rusak tasnya, bukannya digendong dan ditaruh baik baik malah diseret dari pintu depan hingga masuk ke kamar. Kotor dan cepat rusak...!!
“Bawa tasnya yang bagus dong Nak, nanti tas kamu kotor dan cepet rusak, kan sayang” kuprotes si kakak dengan hati hati. “Berat Bunda, bukunya banyak...” aku terdiam sejenak. Si kakak benar...untuk badan mungilnya tas berisi banyak buku itu pasti cukup berat untuk disandang.
 “Adik tidur Bun?” setelah berhasil melepas sepatu dan kaus kaki tanpa menunggu jawaban kakak langsung berlari ke kamarku. “adik baru tidur Nak, jangan diganggu dulu lagian,,, kakak juga harus bersih bersih dulu” ...pekikku perlahan. Aduh...belum beres kerjaan kalau si adik bangun... Benar saja...tanpa menghiraukan kata-kataku..si kakak sudah melakukan 'aksi'nya, tangannya jahil.... pipi si adikpun ditowel towel, tangan dielus elus..bahkan leher digelitikin... Dan bangunlah si adik dengan sukses....huaa..jemuran belum diangkat, piring dan peralatan masak belum selesai dicuci. Repot memang tanpa asisten rumah tangga. Pekerjaan rumah yang seakan tiada habis ditambah mengasuh dua orang anak dan satu diantaranya masih bayi.
Si kakak tersenyum puas. Sambil nyengir mencium pipi adiknya lalu kabur ke kamarnya...
Bagaimanapun seabrek kerjaan belum selesai,..anak tetaplah yang utama. Perlahan kuangkat si adik yang terganggu tidurnya. Kutenangkan lagi bayiku yang baru 3 bulan ini.... “Bunda....nih ada surat dari Bu Guru. Kita mo ikut outbond” si kakak menyerahkan buku “Komunikasi Orang Tua – Guru.
“ Kakak coba baca sendiri...Bunda mau dengar apa isi suratnya”. “Aku kan belum lancar membaca...Bunda aja yang baca” Kakak mengelak membacanya untukku. “Harus belajar dong Nak...kakak kan sudah kelas 1. Coba dulu...Bunda bantuin” bujukku lagi. “Nggak ah Bunda aja...” Kakak kekeuh menolak.
 Hadehh, mungkin memang anak lelaki agak lambat kemampuan membacanya dibanding perempuan. Aku lihat anak tetangga yang perempuan sejak TK sudah lancar membaca. Sedangkan si kakak, masuk SDIT belum lancar membaca. Surat itu berisi pemberitahuan kepada orang tua murid mengenai kegiatan outbond untuk anak kelas 1 di Kampung Cijeruk, dan apa saja yang harus dipersiapkan termasuk lembar persetujuan orang tua. “ Kakak mau ikut?”. Seingatku saat di TK, dia tidak optimal ikut outbond. Cuma sedikit permainan yang sanggup dilakukannya. Banyak yang tidak dilakukan karena rasa takutnya.
 “Ikut dong Bunda... teman sekelasku semua mau ikut. Kata Bu Guru, acaranya juga seru ada mandiin kerbau segala”..si kakak antusias sekali. Kuacungkan jempolku memuji semangat dan keberaniannya. Sekecil apapun sikap positifnya harus diberi penghargaan bukan?
Sempat khawatir si kakak mogok ikut outbond, ternyata hingga hari keberangkatannya antusiasme itu tidak surut. Aku bersyukur semoga si Kakak benar benar menikmati outbond pertamanya. Pulang sekolah kusambut si kakak dengan antusias dan penasaran. Kunanti cerita serunya...atau malah cerita ketakutannya?? “Gimana kak, seru outbondnya..?” tanyaku penuh semangat sembari membantu melepas tas, sepatu dan bajunya. Nampaknya si kakak sangat kelelahan. “ Seru Bun,..” matanya berbinar memandangku. “Kakak nggak takut lagI...?” lanjutku penuh selidik. “Nggak dong Bun, malu sama akhwat....masak kakak kalah sama mereka”. Lalu mengalirlah cerita seru pengalaman outbondnya. Bahasa kanak kanaknya yang polos dan lugu membuatku senyum senyum sendiri. Aneka permainan outbond diikuti semua oleh si kakak, dari meniti balok, merayap, melompat , memanjat, meluncur hingg ditutup dengan acara memandikan kerbau dan mencari belut di kolam. “Seru Bun...kita mandiin kerbaunya rame rame, kasian kerbaunya pasti kedinginan. Lebih seru lagi pas lomba menangkap belut...wuihhh licin nya belut itu. Kakak ngga bisa nangkep. Mana lumpurnya dalem...” upsttt karena fokus pada outbond si kakak baru teringat, bagaimana dengan bajunya???
 “ Trus baju kakak gimana..?” tanyaku sedikit berdebar “ Ya kotor lah Bunda....maaf, kotorrr banget. Soalnya kakak tadi nyemplung ke sawah dan ke kolam. Seru! Kalau akhwatnya pada ngga berani Bun, mereka cuma jerit jerit geli liat belut”. Buru buru kukeluarkan plastik berisi baju kotor dari tas sekolahnya....taa raaa...masya Allah baju kakak super duper kotornya!!! . Antara emosi jengkel, gembira dan bangga menyatu........tapi aku sadar itu sudah resiko. Keberanian si kakak untuk mengikuti outbond, keceriaan dan kegembiraannya mengalahkan 'sekedar' baju kotor yang menjadi bagianku selanjutnya.
 “Nanti kalau kelas 2 kakak mau ikut outbond lagi yang lebih seru Bunda”

Pelajaran dari Gigi

(Cerpen sederhana ini coba saya kirim ke Majalah Alinea Aliya, Majalah sekolah Farras SDIT ALiya Bogor, belum tahu dimuat atau tidak tujuan utamanya adalah saya ingin menunjukkan kepada Farras hobi/kegiatan yang positif. Hobi membaca itu sangat baik, lebih baik lagi bila disalurkan juga dalam bentuk tulisan untuk dibagi kepada yang lain....Ayo dik, suatu saat kamu bisa menulis juga, tetap mencoba dan berusaha...)

Amanda hari ini tidak masuk sekolah. Hingga bel masuk berbunyi dan dimulainya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) Amanda belum muncul juga. Bukan kebiasaan Amanda datang terlambat, bahkan boleh dibilang hampir setiap hari Amanda datang paling pagi dibandingkan teman teman sekelas . Anak anak kelas 2 B mulai ribut. Shela berbisik bisik ke Nayla menanyakan teman se-genknya (se-genk karena sama sama hobi makan...)
 “Nay, kemana Amanda ya kok belum masuk kelas?”..dengan berbisik pula Naila menjawab sambil membetulkan letak kerudungnya yang mulai miring (padahal baru jam pelajaran awal tapi kerudung Nayla sudah miring. Itu karena muka Nayla yang terlalu imut atau kerudungnya yang kebesaran ya??)
“ kamu kan temen dekatnya masa kamu tidak tahu?”. “ Ohh jadi kamu tahu kemana Amanda, kok dia gak kasih tau aku” mata Shela membulat sambil manyun tidak memperhatikan Pak Ahmad yang sedang mulai menjelaskan tentang geometri berbagai bangun. Sedangkan Bu Soliha, wali kelas 2B mengawasi di sudut belakang kelas. “bukan begitu...aku juga gak tau kenapa Amanda belum masuk sekolah..” Naila menjawab dengan enteng.
Tiba tiba terdengar celetukan ikhwan, ternyata si Amran sang Rois “ Pak Ahmad, Amanda nggak masuk sekolah ya Pak?”. Pak Ahmad terdiam sejenak, dan sedetik kemudian pandangannya mengarah ke Bu Soliha di belakang. Bu Soliha menjawab dengan lembut,” belum ada kabar dari keluarga Amanda, nanti ibu coba sms ke mamanya Amanda”. Amanda, anak yang ceria dan cenderung cerewet, murah senyum dan ramah tidak saja kepada teman temannya tapi juga Pak Satpam, Pak Penjaga Sekolah, Tukang Kebun, Bu Rina yang berjaga di dapur sekolah bahkan kepada para mama yang mengantar putra putrinya ke sekolah. Ketidakhadirannya di sekolah membuat tanda tanya dibenak teman temannya kelas 2B. Selepas istrirahat pertama untuk sesi sholat dhuha dan snack, belum ada juga kabar mengenai Amanda. Menurut Bu Soliha, sms ke mama Amanda belum ada jawaban juga. Hingga KBM berakhir pukul 14.00, anak – anak sudah tidak bertanya tanya lagi mengenai Amanda. Mereka membuat kesimpulan sendiri sendiri tentang ketidakhadiran Amanda di sekolah
Hari berikutnya, Amanda belum muncul juga di kelas. “Kemana si Amanda ya friends”, celetuk Khansa kepada beberapa teman yang sedang bersiap siap mengikuti doa pagi bersama Bu Soliha. “Sttt, nanti kita tanya bu Soliha lagi”, bisik Rayna sembari membuat gerakan menutup mulut dan meletakkan jari telunjuknya di bibir. Setelah berdoa bersama yang dipimpin Bu Soliha, hari ini dimulai dengan pelajaran Hadits. Shela sudah gatal ingin menanyakan ke Bu Soliha kenapa Amanda belum masuk juga. Kemarin ia ingin menelpon Amanda ke rumah tapi ragu ragu. Dan hari ini ia berharap Amanda sudah muncul dengan keceriaannya dan siap saling bertukar bekal makanan. (sudah kebiasaan mereka berdua yang memang doyan makan untuk saling bertukar bekal saat istirahat baik snack maupun sayur dan lauk)
Pelajaran hadits berjalan seperti biasa, materi hari itu adalah hadits mengenai pahala tersenyum. Dari Abu Dzar Rodhiyallohu 'anhu تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ “ Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“[1].
 “ ….....jadi anak anak, sekedar tersenyumpun merupakan sedekah dan mendapatkan pahala dari Allah” papar Bu Soliha, sambil merapikan buku di meja. Sebentar lagi bel istirahat pertama berbunyi.
 “ Bu,..Amanda nggak masuk sekolah kenapa ya bu?” Amran sang Rois bertanya sambil berdiri menunjukkan sikap tanggungjawab dan peduli anggota kelasnya tidak masuk sekolah. “ Oh ya,...tadi mamanya Amanda sms ke ibu, Amanda tidak masuk karena sakit. Cuma beliau tidak menjelaskan sakitnya apa. Kita berdoa saja semoga Amanda cepat sembuh dan kembali berkumpul bersama kalian” Bu Soliha menjelaskan dengan lembut.
“Bu kita tengok Amanda boleh tidak, kan sudah dua hari nggak masuk” Shela berkata kata dengan serius. Saat berbicara pipinya nampak membulat, menggemaskan. “ Iya bu, kita jenguk Amanda yuk” beberapa anak menyetujui usul Shela. “ Baiklah, kita tunggu besok. Semoga besok pagi Amanda sudah sehat dan bersekolah kembali. Tapi kalau belum masuk juga..kita akan tengok sama sama. Tapi jangan semua ,...beberapa anak saja perwakilan. Kita bicarakan lagi besok ya, sekarang waktunya istirahat, kalian sholat dhuha dulu. Jangan lupa doakan Amanda supaya cepat sembuh. Doakan juga ayah ibu dan saudara kalian. Ok?” Bu Soliha menjawab dengan lembut dan sabar .
Esok hari berikutnya, pagi sekali Amanda sudah muncul di sekolah. Berbeda dengan seperti biasanya wajahnya tertunduk mulutnya terkatup, tidak terucap kata kata bahkan sekedar senyuman manisnya. Ketika kelas 2 B mulai ramai, anak anak mendekati Amanda. Shela sangat gembira sahabatnya tersebut sudah sembuh dari sakitnya. “ Kamu sakit apa Manda...” Amran mengawali bertanya. Amanda hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
 “ Syukurlah kamu dah sehat, hari ini mama bawain aku banyak kue, ada coklat dan stroberi, nanti kita makan sama sama ya Kamu bawa bekal apa?.” Shela menyambut dengan riang. Tapi hanya Amanda hanya tersenyum dan menggeleng. Khansa, Nayla, Adam, Haya, dan yang lain bertanya tanya..” kamu kenapa sih,,kok cuma diam?” Bel masuk berbunyi nyaring. Amanda seperti terselamatkan dengan bunyi bel. Pelajaran pertama adalah Pkn oleh Bu Soliha. Setelah memimpin doa pagi, Bu Soliha mengabsen anak anak sebelum memulai pelajaran. “Alhamdulillah, Amanda sudah sehat nak? Teman teman kangen lo” Bu Soliha menyapa Amanda dengan lembut. “Amanda sakit apa, teman teman sudah ingin menengok Amanda” Bu Soliha melanjutkan. Amanda belum juga menjawab pertanyaan Bu Soliha. Anak anak heran, kok Amanda jadi berubah banget setelah sakit. Kenapa ya? Nayla berpikiran Amanda kena sariawan sehingga susah membuka mulut. Khansa berpikir mungkin Amanda sakit gigi. Adam berpikiran lain lagi, jangan jangan Amanda sebenarnya tidak sakit, tapi karena kelinci kesayangannya mati maka dia sedih banget. Adam tahu Amanda punya kelinci kesayangan dari foto yang dibawa Amanda ke sekolah. Amanda sangat sayang dengan kelincinya itu.
Sedetik, dua detik, tiga detik empat detik lima detik....seisi kelas memandang ke arah Amanda. Muka Amanda memerah, matanya tampak mulai berkaca kaca..Bu Soliha sudah hampir mengeluarkan kata kata ...tetapi kemudian terdengar suara lirih Amanda,...sambil menundukkan wajah. Anak anak yang lain semakin penasaran...kenapa sih Amanda...? “Sebenernya saya nggak sakit Bu...” “Kenapa nak, coba suaranya yang keras dan jangan menunduk ya sayang, teman teman juga mau dengar”. Bu Soliha membujuk Amanda dengan sabar. Pelan pelan Amanda mengangkat wajahnya dan ….” gigi saya copot bu....saya ompong..” Amanda nampak menahan malu sambil menunjukkan gigi depannya yang ompong. Sejurus kemudian kelas menjadi riuh oleh suara anak anak, sebagian ikhwan dan akhwat tertawa, Khansa, Shela, Nadia, dan beberapa akhwat lain hanya nyengir. Dony, ikhwan yang suka iseng tiba tiba berkomentar dengan bijak... ” Ahh itu sih hal biasa, jangan kuatir nanti juga tumbuh yang baru seperti gigiku ini”. “Anak-anak coba tenang dulu....harap tenang ya”. Setelah keriuhan terhenti Bu Soliha melanjutkan kata-katanya “ Amanda,...kenapa mesti malu sampai tidak masuk sekolah 2 hari. Teman teman jadi kangen tuh.  Begini anak anak. …. gigi yang tanggal itu hal yang wajar untuk anak seusia kalian. Namanya gigi susu, gigimu yang tanggal akan diganti dengan baru yang lebih bagus dan kuat yang akan bertahan hingga kita dewasa. Sabar saja....nanti akan segera tumbuh. Walaupun kehilangan gigi, Amanda tetep manis kok,...betulkan?” Anak anak tertawa renyah...mereka tahu karena setiap anak pasti akan mengalami hal seperti Amanda. “tidak perlu malu sayang...cobalah tetap tersenyum dan ramah seperti biasanya. Walaupun gigimu tanggal temen teman dan para guru tetap saya sama kamu,” Bu Soliha mendekati Amanda sambil mengelus kepala Amanda penuh sayang. “Iya kenapa malu sih, kirain kamu sakit apa” celetuk Rayna. Adam menimpali,” kukira kelinci kamu mati, jadi kamu sedih”. “Kenapa mesti malu Manda, udah ah gak usah dipikirin, cuek aja deh” Haya sedikit berkomentar.
Amanda tersenyum malu malu,”Abisnya kakakku nggodain aku terus katanya aku jadi jelek karena hilang gigi. Si Gilang, Gigi Ilang gitu kata kakakku”. “Anak anak, walaupun kalian kehilangan gigi, nggak perlu kuatir dan malu, gigi baru akan muncul. Tetaplah banyak tersenyum dan bersikap ramah sebagaimana pelajaran hadits kemarin. Karena senyum itu adalah termasuk sedekah. Tapi jangan senyum senyum sendiri ya...?” Bu Soliha berkata sambil tersenyum jenaka. Anak – anak kelas 2B tertawa renyah ...mengiringi hati Amanda yang bahagia berkumpul kembali bersama teman teman. -----------------------0000000----------------------------

Rabu, 06 Februari 2013

Makah, Masjidil Haram, Arofah dan Mina

Perjalanan menuju Makah dari Madinah dimulai dengan miqat di Bir Ali untuk umroh. Kami dalam kondisi berihrom yang direncanakan satu hari selesai setelah kami menyelesaikan rangkaian, tawaf, sai dan tahalul.
Dalam kondisi ihram kami sampai di Makah sore hari, langsung menuju penginapan mengurus kamar , koper dan barang bawaan lain. Semula direncanakan tawaf pada malam hari tetapi karena berbagai pertimbangan ketua rombongan merubah rencana tersebut menjadi pagi hari setelah sholat subuh yang didahului dengan sholat subuh berjamaah di Masjidil Haram.
Inilah yang sangat saya nantikan, sudah tidak sabar untuk segera mendatangi Masjidil Haram.....Masjid terbesar yang terdapat Kabah di dalamnya.... Masjid yang selama ini hanya bisa saya lihat dari televisi atau gambar/foto. Untuk kali ini saya akan melihat secara langsung...subhanallah Allah Maha Baik.
Semakin mendekat ke Masjidil Haram, magnet dan aura nya semakin terasa. Melihat megah dan indahnya Masjid Haram membuat kami terkagum kagum....bagaiman dengan Kabahnya ya?
Setelah selesai sholat subuh, tibalah saatnya kami untuk thawaf. Dengan dibimbing Pak Adam Ibrahim, ketua Yayasan kami segera menuju ke areal Kabah...Subhanallah..merinding dan tidak percaya rasanya....saya merasa lemas, gemetar dan tidak kuasa menahan kabut yang menyelimuti kedua mata... spontan isak tangis jamaah pun terdengar tidak terkecuali saya tentunya. Apalagi mendengar petuah dan kata kata Pak Adam. Luruh rasanya segala keegoan sebagai manusia,...sia sialah segala rasa sombong dan riya.....kita manusia begitu kecil dan tidak berarti...sedangkan dunia yang selama ini dikejar.....hanyalah semu semata.
Ibadah tawaf, mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali,....menjalankan apa yang menjadi tuntunanNya dan dicontohkan oleh Rasulullah....Sulit untuk menggambarkan segala perasaan yang muncul saat itu. Akhirnya, saya sampai disini, di pusat dunia, pusat segala pencarian manusia yang penuh nafsu dan ego. Sungguh, siapa yang tidak tergetar hatinya menyaksikan bangunan kubus berwarna hitam kelam....hitam yang bukan mengerikan dan sama sekali bukan kotor...tapi hitam yang megah penuh pesona dan magnet yang kuat tiada tara....
Thawaf diakhiri dengan sholat dua rakaat dan berdoa di belakang Maqom Ibrahim tidak lupa minum air zam zam. Doa doa nan panjang dan penuh perasaan saya lantunkan, bersama suami disisi...kami sama sama berdoa, bermunajat memohon ampunan, barokah, kemudahan rizki, keselamatan, keturunan yang solih dan semua permohonan yang mungkin terucap, kepada Allah. Selagi Allah begitu baik memberikan kesempatan hingga di Masjidil Haram, jangan sampai kesempatan yang sangat baik lewat dengan sia-sia....

Ya Allah...
begitu banyak dosaku, ampunilah segala dosa dan kekhilafanku
terimalah segala amalanku,
kabulkanlah semua permohonanku.
Ijinkan kami kembali ke rumahMu..bersama serta anak anak kami..
mudahkanlah kami berkunjung ke rumahMu...
mudahkanlah saudara dan teman teman kami untuk memenuhi panggilanMu


Selesai pelaksanaan umroh, kami masih harus menunggu untuk pelaksanaan puncak ibadah Haji. Selama waktu menunggu tersebut, semua jamaah dibebaskan untuk membuat planning ibadah sendiri mengingat kondisi masing masing jamaah yang berbeda beda. Saya dan suami juga berusaha memaksimalkan waktu yang ada untuk banyak beribadah terutama di Masjidil Haram baik sholat fardhu berjamaah maupun melaksanakan thawaf sunah. Selama masih mampu dan sehat kenapa tidak? Banyak juga yang bilang agar tidak terlalu ngoyo karena saat itu belum sampai pada puncak ibadah Hajinya. Jadi lebih baik menyimpan kekuatan fisik dan tenaga karena hal tersebut sangat dibutuhkan pada saat melaksanakan Wukuf, melempar Jumrah, Thawaf dan Sai.
Karena cuaca yang memang berbeda jauh dengan di tanah air dan mungkin juga kelelahan, ayah mulai terkena batuk, bahkan disertai dengan flu berat padahal sebelum berangkat kami kan sudah di suntik imunisasi flu? Yaahhh mau bagaimana lagi, kami hanya bisa pasrah dan ikhlas...hingga selama sakit ayah hanya memaksakan diri untuk berjamaah di masjid dekat penginapan, tidak sanggup untuk berjubel bersama ribuan jamaah lain sholat di masjidil Haram

Akhirnya sampai juga kami untuk bersiap melaksanakan ibadah Haji di Arofah dan Mina.... Jujur selain perasaan bahagia, muncul juga rasa kuatir dan rendah diri ...masih saja saya tidak percaya akan menapaki jejak ibadah Rasulullah...ibadah yang paling berat dibandingkan rukun Islam yang lain. Tidak hanya menuntut kesiapan spiritual dan biaya tetapi juga fisik yang kuat. Dan hal tersebut sungguh saya percayai karena menyaksikan dan merasakan sendiri beratnya ibadah Haji. Berat tapi nikmat begitu kata sebagian orang yang sudah pernah berhaji.
Melihat hamparan padang Arofah yang dipenuhi dengan tenda tenda putih, hati menjadi ciut. Padang Arofah yang akan menjadi tempat berkumpul jutaan manusia dari seluruh penjuru bumi, mempunyai kondisi alam yang keras sebagaimana tempat yang lain di tanah Arab dimana tanahnya berbatu, tanpa pepohonan, cuaca yang sangat panas dan angin cukup kencang. Disinilah jamaah akan berkumpul dengan pakaian ihram yang serba putih. Pakaian yang menegaskan bahwa semua atribut keduniawian tidak ada artinya, semua yang kaya ataupun miskin, atasan maupun bawahan,pejabat maupun non pejabat semua sama di hadapan Allah. Bagi siapa hamba yang mau mendekat padaNya, dengan keimanan dan ketaqwaan, baginyalah kemuliaan bahkan seandainya dia dianggap hina didunia.
Bergidik tubuh ini membayangkan kira kira seperti itukah nanti manusia di Padang Mahsyar?
Wukuf di Arofah, alhamdulillah kami lalui dengan baik. Ditengah deraan panas yang menyengat, dengan serbuan rasa lelah dan kantuk karena perjalanan yang dilalui sebelumnya juga karena tidur yang kurang, semua jamaah berusaha bersungguh sungguh memanfaatkan momen sangat istimewa ini dengan banyak banyak ibadah dan melantunkan doa maupun bacaan zikir.

Setelah wukuf di Arofah, selanjutnya adalah bermalam di Muzdalifah sebelum melanjutkan ke Mina untuk melempar jumroh. Bermalam ini tidaklah seperti pengertian bermalam sebagaimana umumnya. Karena disini kita hanya menggelar tikar dan tidur seadanya karena terbatasnya tempat dan waktu. Dini hari, jamaah sudah mulai antri diangkut menuju Mina untuk prosesi melempar jumroh. Benar benar melelahkan fisik dan mental, selain harus berusaha dalam kondisi fit kesabaran mental benar benar diuji karena tak jarang karena faktor kelelahan antar jamaah terlibat adu mulut.

Di Mina, pelaksanaan jumroh juga tidak seringan yang dibayangkan. Jarak antara kemah kami dengan lokasi melempar Jumroh Ula lebih dari 2 km, Ula ke Wustha ± 500 m sedangkan Wustha ke Aqobah ± 400 km. Pada tanggal 10 Dzulhijah, sesampai di Mina dan selepas Subuh, Ketua Yayasan sudah 'berteriak teriak' kepada jamaah untuk bersegera dan bersiap melempar jumroh. Alhamdulillah pagi hari tersebut belum terlampau ramai dan prosesi lempar jumroh Aqobah dapat berjalan lancar. Sekilas terbayang gambaran masa silam ketika Siti Hajar mendapat godaan Syaiton hingga harus melempar Syaiton dengan batu. Tentu apa yang ada dahulu kala jauh berbeda dengan saat saya melempar saat itu. Bahkan yang ada dihadapan saya juga sudah mengalami banyak perubahan bangunan karena mengantisipasi banyaknya jamaah haji .
Pada tanggal 10 Dzulhijah tersebut kami menyelesaikan rangkaian ibadah melempar jumroh Aqobah, tahalul. thawaf Haji dan Sai . Sungguh melelahkan memang, tapi melegakan karena kami telah berhasil menyelesaikan Wajib dan Rukun Haji. Tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijah kami tinggal melanjutkan melempar 3 Jumrah dan akan diakhiri dengan Thawaf Wada sebagai thawaf menjelang kepulangan ke Tanah Air.
Hari hari selama menunggu kepulanganpun berusaha dimanfaatkan oleh jamaah dengan sebaik baiknya dengan memperbanyak ibadah. Tapi banyak juga lo yang memperbanyak belanja, he he. Buktinya hampir semua pertokoan ramai dikunjungi pembeli yang notabene adalah jamah Haji dari berbagai negara. Jangan heran jamaah Haji Indonesia sangat terkenal di Makah. Terkenal karena doyan belanja!!...juga karena jamaah dari Indonesia adalah terbesar dibandingkan jamaah dari negara lain. Terbanyak dan doyan belanja...karenanya para penjual sangat senang dengan kedatangan para jamaah dari Indonesa.

Dan hari terakhir di Makah pun tiba...ada rasa senang dan bahagia tapi juga rasa haru yang mendalam. Pertanyaan yang muncul dalam hati saya, YA Allah kapankah kami berkesempatan datang kembali ke kota suci Makah, kapankah lagi kami bisa bersujud di dalam Masjidil Haram dan mengelilingi Kabah sebagai pusat bumi, titik pusat kedalaman pencarian manusia.
Kami bertekad untuk kembali lagi bersama anak anak untuk melaksanakan Umroh. Tentunya harus menabung dulu dan mempersiapkan mereka hingga sudah cukup mengerti tentang ibadah haji.










Madinah, Masjid Nabawi dan Raudhah.....

Akhirnya sampai juga kumenginjakkan kaki di bumi Arab, yang akan kuakrabi selama 40 hari.... Ya 40 hari waktu satu rangkaian ibadah Haji yang akan kujalani... Rasanya antara percaya dan tidak,.... Antara realitas atau mimpi Sungguh membahagiakan, dan seketika rasa haru membuncah di dada...ya Allah ya Robbi kami penuhi panggilan agungMu, kami datang padaMu menunaikan rukun Islam ke lima... Dulu dulu sebelumnya …...rasanya terlalu hina diri ini untuk bisa memenuhi rukun Islam ke lima. Terlalu banyak kelemahan dan kekurangan yang kumiliki sehingga rasa kurang pantas tak urung menghinggapi diri. Tetapi semata mata karena Allah lah hingga kami memberanikan diri untuk mengazzamkan keinginan melaksanakan rukun Islam ke lima.
Kami berangkat dari Bogor sebagai Kloter 14 yang merupakan gelombang awal sehingga sebelum puncak ibadah Haji, maka kami terlebih dahulu melakukan ibadah di Madinah selama 8 hari. Delapan hari tersebut harus kami manfaatkan seoptimal mungkin,...harus kami isi dengan sebaik baiknya ibadah, ibadah,dan ibadah....Masjid Nabawi adalah fokus utama. Di sinilah kami akan melakukan sholat berjamaah lima waktu selama 8 hari. Jangan sampai putus...jangan sampai terlewat ya Allah (doa dalam hati). Masjid Nabawi, subhanallah sungguh sungguh indah....dan tak terasa kaca mataku buram oleh mataku yang berkaca kaca, sementara hatiku menitikkan rasa bahagia dan rasa haru yang tiada tara....akhirnya akhirnya ya Allah hambaMu ini bisa menyaksikan Masjid yang agung tersebut secara langsung, bisa menunaikan sholat di dalamnya...Alhamdulillah.
Alhamdulillah hotel hotel di Madinah untuk para tamu Allah rata rata dekat dengan Masjid Nabawi. Hal ini memudahkan dan meringankan kami dalam melaksanakan sholat jamaah. Tenaga tidak terkuras oleh perjalanan, fisik pun bisa tetap terjaga. Bersyukur pula karena jamaah Indonesia disediakan katering makan siang dan makan malam. Singkat cerita, jamaah bisa fokus untuk beribadah 5 waktu di Masjid Nabawi. Bagi jamaah Haji, di kota Madinah tidak hanya sholat lima waktu di Masjid Nabawi , ada satu tempat afdol di dalam masjid Nabawi yang sangat disarankan untuk dikunjungi. Tempat yang saya maksud ini adalah Raudhah. Dalam salah satu hadits diriwayatkan “" Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah (taman) diantara taman-taman surga". Raudhah artinya taman. merupakan suatu tempat didalam Masji Nabawi yang terletak diantara bilik Nabi / rumah Nabi (sekarang menjadi makam Rasulullah SAW) sampai mimbar masjid. Disitulah dahulu Nabi biasa membacakan wahyu dan mengajarkan tentang Islam didepan para sahabat terdekatnya. Raudhah juga merupakan salah satu tempat yang mustajab bagi jamaah Haji selain tempat tempat lain seperti Masjidil Haram, Arofah dan Mina. Di Raudhah ini, memiliki keutamaan dimana doa doa yang kita panjatkan, insya Allah akan dikabulkan oleh Allah SWT. Karena itu bagi saudara saudara yang berkesempatan datang ke Madinah, manfaatkan dengan sebaik baiknya, jangan sia siakan kesempatan yang sangat berharga tersebut. Berniatlah sekuat hati dan berikhtiar agar Allah memudahkan langkah kita menuju ke Raudhah. Karena tempatnya yang khusus dan terbatas, begitu juga waktu kunjung yang dibatasi (untuk wanita) langkah menuju ke Raudhah memerlukan trik dan strategi sendiri. Pertama kali ke Raudhah, kami jamaah wanita Baiturrahim dibimbing oleh seorang pemandu bernama Ibu Maryam. Ibu Maryam orang asli Indonesia yang sudah lama bermukim di Madinah. Mempunyai suami orang Indonesia juga dan dikaruniai 2orang anak. Kami berombongan pada pagi h ari untuk mencoba masuk gelombang awal. Asal diketahui pemeriksaan sebelum masuk ke Raudhah sangatlah ketat. Setiap jamaah yang akan masuk akan diperiksa oleh Asykar. Dan jamaah yang ketahuan membawa Handphone atau kamera akan diminta meninggalkan alat elektronik tersebut . Para Asykar tersebut juga dengan ketat mengawal kita selama penantian sebelum masuk ke Raudhah. Demi ketertiban dan keamanan, jamaah yang datang dari berbagai negara dibagi dalam beberapa kelompok, Indonesia akan dikelompokkan dengan Malaysia, Philipina sebagai kelompok Melayu. Rombongan kulit hitam dari Afrika akan dikelompokkan sendiri, demikian juga Turki, Iran dll. Selama menunggu dan mendengarkan ceramah dari Bu Maryam, dada saya serasa sesak, senang dan haru berpadu..... tidak terasa air matapun menetes dan menangislah saya tanpa bisa ditahan.... YA Allah saya menangis....haru, bahagia karena aura kuat yang terpancar dari Makam Rasul, Mimbar Rasul dan Raudhah.....inikah makam manusia paling Mulia di dunia, disinikah dahulu beliau bermukim dan sholat? Dan saya juga menangis dan terus menangis dalam doa dan munajat untuk memohon ampun atas segala perilaku dan kesalahan yang lampau ….. doa untuk kedua orang tua, suami, kedua anak dan para saudara untuk kebahagiaan dunia dan akherat.. Karena baru pertama kali datang, saya masih terbawa arus dan terlampau bernafsu untuk segera mencapai Raudhah. Akibatnya saya malah terjebak ditengah tengah terdorong dorong oleh para jamaah di belakang saya. Dengan kondisi seperti ini saya juga masih merasa kurang puas sholat dan berdoa di Raudhah. Dalam hati saya bertekad, pokoknya saya harus kembali lagi secepatnya...Insya Allah. Kesempatan kedua ke Raudhah, saya datang bersama dua orang teman sekamar....tapi karena proses menunggu yang terlalu lama dan kecapekan, dua orang teman tersebut mundur sebelum mencapai Raudhah. Sedangkan saya karena memang berniat untuk datang kembali, segala rasa lelah, pegal dan keinginan untuk BAK saya tahan sekuat tenaga demi demi kembali ke RAUDHAH.... Kali ini saya coba lebih bersabar dan tidak terburu nafsu, biarlah saya ada di posisi belakang karena dengan begitu tidak ada orang yang mendorong dorong.. Alhamdulillah dengan bantuan Allah kali ini saya mendapat tempat yang strategis untuk sholat dan berdoa....maka berdoalah saya sepuas-puasnya saat itu... Delapan hari di Madinah, 40 kali sholat wajib (arbain), kloter kami bersiap menjuga Mekah untuk persiapan menuju puncak Ibadah Haji....disanalah menurut banyak kalangan perjuangan yang sesungguhnya dalam rangka menggapai Haji Mabrur.

Rabu, 12 September 2012

Catatan Menuju Baitullah....

Segala sesuatu sudah dipersiapkan sejak lama. Perasaan tetep ada saja yang kurang, beli ini itu, belum ini itu. Tanya sana sini, browsing internet cari aneka tips.Walah walah cem macem tips dan sarannya ..Byuhhh byuuhhh ternyata untuk menuju ke Baitullah sangat sangat menguras baik fisik, keuangan maupun pikiran.
Sempet terbersit ragu juga....ya Allah jangan jangan sebenarnya hamba belumlah siap untuk memenuhi kewajiban ibadah no 5. Malulah di hadapan Allah ...karena jujur aja ibadah kami masih jauh dari sempurna, sikap dan tingkah laku masih penuh dengan cacat cela. Ibaratnya sebagai tamu, walaupun sang tuan rumahnya ramah, baik hati sangat sangat welcomed...tentu kita tetep ingin datang dengan pakaian yang sopan, sikap dan etika yang baik , tidak datang dengan seenak udelnya. Kalau datang seenak udel kan malu sama tuan rumah.
Di sisi lain bukankah Allah maha agung, maha pengampun, maha bijaksana, maha sempurna dan segala ke-maha-annya adalah sebaik-baiknya tuan rumah? Tuan rumah yang baik tentu akan menyambut para tamunya dengan sangat baik. Walaupun mereka yang datang penuh maksiat, dan berlumur banyak dosa, Allah akan sangat senang manusia memenuhi panggilanNya, dan Allah maha pengampun tentunya akan mengampuni mereka yang benar benar bertobat.
So, tetap bulatkan tekad untuk memenuhi panggilanNya. Luruskan niat dan bersihkan hati. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kami selama di Tanah Suci nantinya.


Labbaikallahumma Labbaik...Labbaika la syarika laka labbaik...

(hitung mundur....sambil menunggu jadwal keberangkatan,......semoga lancar semuanya ya Allah)

Senin, 10 September 2012

Langkahku Menuju Baitullah........

Setelah menunggu hampir 3 tahun, tahun 2012 insya Allah menjadi tahun keberangkatan kami menuju Baitullah.
Segala rasa bercampur menjadi satu...antara senang, bahagia, sedih, cemas dan tegang....
Akankah Sang Tuan Rumah menerima kedatangan hambaNya yang hina ini...?
Akankah Beliau akan menerima segala pertobatan hamba ini...
Mampukah diri ini menjaga segala ibadah dengan sebaik-baiknya?

Menurut saya adalah wajar segala perasaan yang muncul tersebut, karena bagaimanapun saya adalah makhluk yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan...
Senang dan bahagia tentunya... sementara banyak orang lain yang sangat mendambakan berkunjung ke Baitullah tetapi belum kesampaian juga, entah karena ketidaksiapan mental, rohani, biaya atau alasan lain. Alhamdulillah kesempatan untuk kami berdua datang pada tahun ini.
Sedih ...muncul juga rasa ini, mengingat selama 40 hari lebih akan meninggalkan anak anak, saudara, teman teman, rumah...sedangkan saya tidak yakin apakah Allah berikan kesempatan untuk kembali lagi berkumpul dengan mereka semua. Maka hanya kepasrahan yang dalam kami serahkan kepadaNya....
Cemas dan tegang.....rasa yang serta merta muncul karena ketidakpercayaan diri. Mampukah memanfaatkan momen ibadah besar tersebut dengan sebaik baiknya dan seindah indahnya ibadah. Dan tentunya … mampukan menjaga segala perilaku dan ibadah sepulang dari Baitullah...

(catatan sebelum berangkat Haji – 2012)