Rabu, 10 Juni 2009

Menakar Kembali Eksistensi Diri

Kalau ditanya apa alasan saya untuk tetap bekerja (bekerja diluar rumah sebagai karyawati...)? Jujur saja saya sangat bingung menjawabnya. Perkenan dulu saya menjelaskan latar belakang diri saya:
1.Seorang lulusan PTN
2.bekerja di sebuah perusahaan swasta (tidak memegang jabatan tertentu), gaji standart
3.jarak rumah – kantor jauh
4.seorang muslimah, istri dan ibu dari 2 orang anak berusia 9.5 thn dan 3.5 tahun
Jauh sebelum saya lulus kuliah ayahanda almarhum pernah berpesan agar saya bisa bekerja dan mandiri tidak bergantung pada orang lain..dan saya pun mengiyakannya.
Setelah lulus kuliah sebagaimana seorang lulusan PT yang lain saya segera mencari pekerjaan dan alhamdulillah saya diterima bekerja disebuah BUMN. Pada saat itu benar benar idealisme saya dan impian saya cukup tinggi, bekerja sesuai bidang keahlian, dapat beasiswa S2 (kl bs bahkan S3) di luar negeri dst dst. Ketika semua itu belum tercapai satupun....saya menikah dengan orang yang sekarang menjadi suami saya tercinta. Impian dan idealisme saya perlahan menurun ...apalagi ketika saya mulai menimang seorang bayi anugerah Allah SWT, anandaku tercinta Faiq saya lebih mengutamakan keluarga dan tidak muluk muluk menjalani hidup. Dengan keadaan ekonomi saat itu semua rencana dan impian yang sempat kami susun menjadi berantakan.......saya sudah tidak berpikir lagi sekolah S2 atau bahkan S3 bisa bekerja dan mendapat penghasilanpun amat sangat bersyukur karena saat itu badai ekonomi menghantam keluarga kecil kami yang baru mulai menapak (ayah...masih ingatkah saat saat itu ?). Bukan waktu yang sebentar menghadapi masa masa sulit dalam kehidupan rumah tangga kami......alhamdulillah saya dan suami sanggup bertahan dan melampauinya. Kami sangat bersyukur, sungguh hanya karena kemurahan dari Allah yang Maha Agunglah maka ekonomi kami perlahan membaik.
Saat ini saya sudah 8 tahun bekerja disebuah perusahaan swasta setelah BUMN tempat saya bekerja sebelumnya kolaps karena badai ekonomi nasional. Sedangkan suami bekerja di sebuah perusahaan nasional....alhamdulillah cukup untuk menghidupi kami sekeluarga.
Dengan kondisi seperti saat ini.... saya sering berpikir dan merenung...masih haruskah saya bekerja? Dengan setiap hari meninggalkan kedua anak saya dan menyerahkannya pada Pembantu? Kalau kondisi yang dulu saya bisa beralasan saya bekerja untuk membatu ekonomi keluarga...tp sekarang (bukan saya bermaksud sombong) suami sudah mampu menghidupi kami walaupun sederhana? Inikah yang dimaksudkan dengan eksistensi diri dimana saya merasa lebih eksis dengan bekerja? Dalam hati kecil saya menjawab...... Ya. Saya merasa nyaman dengan penghasilan sendiri walau tidak besar, kerasan dengan pergaulan dan interaksi dengan teman teman di kantor....bangga dengan sebutan Bekerja ?
Tetapi bukankah dalam Islam kewajiban seorang muslimah yang berkeluarga adalah bekerja di rumah mengurus keluarga? Suami menyerahkan keputusan pada diri sya, tidak memaksa bekerja atau harus berada di rumah. Bukan sekali dua kali saya memikirkan tentang hal ini, saya ingat petuah ayahanda almarhum agar seorang wanita bisa mandiri....saya paham maksud beliau bahwa dengan saya mandiri tentu peluang untuk terjadi penindasan atau KDRT lebih kecil dan kalau suatu ketika terjadi sesuatu pada suami setidaknya saya masih bisa menghidupi anak anak. Jadi kalau begitu...saya bekerja lebih sebagai suatu 'persiapan' kalau terjadi sesuatu pada pencari nafkah utama?
Lalu saya mencoba merenung lagi......bukankah lbih eksis lagi kalau saya lebih banyak mendampingi anak – anak, menemani bermain dan belajar, mengajarkan sesuatu dsb dsb.
Karena anak anaklah wujud dari eksistensi saya karena saya adalah ibunya.
Dan ketika saya memikirkan keputusan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga....saya tidak bs membayangkan apakah saya tidak merasa bosan dengan apa yang tiap hari akan saya jalani, dengan cucian baju, cucian piring, rumah yang berantakan, memasak dan menyiapkan makanan, menyetrika baju dll. Saya yang biasa beraktivitas di luar rumah bertemu dengan banyak orang dan teman, bisakah menjalani dunia dengan 3 orang (suami dan 2 orang anak) dalam tempat seluas ± 200 m?. Jangan jangan saya malah jadi uring uringan dan emosi tinggi menghadapi anak anak dan 'tugas rumah' yang monoton. Apakah itu semua karena bisikan syaiton?. Bukankah Allah menempatkan ibu rumah tangga dalam posisi yang mulia, dan sangat besar pahalanya. Tp bukankah ridho suami sangat penting dan insya Allah suami saya ridho dengan saya bekerja di luar rumah. Duh saya bingung sendiri....
Sedangkan untuk membuka usaha sendiri sehingga saya lebih banyak waktu mengurus keluarga , saya belum sanggup melakukannya.
Jadi ...apa dan dimanakah eksistensi diri saya...?

Akumulasi kegundahan diri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar