Selasa, 30 April 2013

Outbond Pertama

(Tadinya cerpen ini mau saya sertakan dalam lomba Rinso Cerita di Balik Noda, tapi saya pikir kok kurang inspiratif ya. Jadi ragu ragu. Masukkan saja ke Blog dah...untuk memacu Farras menulis juga).

“Assalamualaikum....” terdengar sapaan dari luar disusul bunyi pagar berderit dibuka. Ahhh si kakak sudah pulang rupanya. Buru buru kusambar kerudung dikursi makan lalu bergegas keluar. “ Waalaikumsalam....kakak sudah pulang ...capek ya Nak”, kusambut si kakak di depan pintu.
“ya capek lah Bunda....kan sekolahnya dari pagi” si kakak menjawab sambil menyeret tasnya ke kamar. Aku cuma geleng geleng kepala. Gimana nggak cepet rusak tasnya, bukannya digendong dan ditaruh baik baik malah diseret dari pintu depan hingga masuk ke kamar. Kotor dan cepat rusak...!!
“Bawa tasnya yang bagus dong Nak, nanti tas kamu kotor dan cepet rusak, kan sayang” kuprotes si kakak dengan hati hati. “Berat Bunda, bukunya banyak...” aku terdiam sejenak. Si kakak benar...untuk badan mungilnya tas berisi banyak buku itu pasti cukup berat untuk disandang.
 “Adik tidur Bun?” setelah berhasil melepas sepatu dan kaus kaki tanpa menunggu jawaban kakak langsung berlari ke kamarku. “adik baru tidur Nak, jangan diganggu dulu lagian,,, kakak juga harus bersih bersih dulu” ...pekikku perlahan. Aduh...belum beres kerjaan kalau si adik bangun... Benar saja...tanpa menghiraukan kata-kataku..si kakak sudah melakukan 'aksi'nya, tangannya jahil.... pipi si adikpun ditowel towel, tangan dielus elus..bahkan leher digelitikin... Dan bangunlah si adik dengan sukses....huaa..jemuran belum diangkat, piring dan peralatan masak belum selesai dicuci. Repot memang tanpa asisten rumah tangga. Pekerjaan rumah yang seakan tiada habis ditambah mengasuh dua orang anak dan satu diantaranya masih bayi.
Si kakak tersenyum puas. Sambil nyengir mencium pipi adiknya lalu kabur ke kamarnya...
Bagaimanapun seabrek kerjaan belum selesai,..anak tetaplah yang utama. Perlahan kuangkat si adik yang terganggu tidurnya. Kutenangkan lagi bayiku yang baru 3 bulan ini.... “Bunda....nih ada surat dari Bu Guru. Kita mo ikut outbond” si kakak menyerahkan buku “Komunikasi Orang Tua – Guru.
“ Kakak coba baca sendiri...Bunda mau dengar apa isi suratnya”. “Aku kan belum lancar membaca...Bunda aja yang baca” Kakak mengelak membacanya untukku. “Harus belajar dong Nak...kakak kan sudah kelas 1. Coba dulu...Bunda bantuin” bujukku lagi. “Nggak ah Bunda aja...” Kakak kekeuh menolak.
 Hadehh, mungkin memang anak lelaki agak lambat kemampuan membacanya dibanding perempuan. Aku lihat anak tetangga yang perempuan sejak TK sudah lancar membaca. Sedangkan si kakak, masuk SDIT belum lancar membaca. Surat itu berisi pemberitahuan kepada orang tua murid mengenai kegiatan outbond untuk anak kelas 1 di Kampung Cijeruk, dan apa saja yang harus dipersiapkan termasuk lembar persetujuan orang tua. “ Kakak mau ikut?”. Seingatku saat di TK, dia tidak optimal ikut outbond. Cuma sedikit permainan yang sanggup dilakukannya. Banyak yang tidak dilakukan karena rasa takutnya.
 “Ikut dong Bunda... teman sekelasku semua mau ikut. Kata Bu Guru, acaranya juga seru ada mandiin kerbau segala”..si kakak antusias sekali. Kuacungkan jempolku memuji semangat dan keberaniannya. Sekecil apapun sikap positifnya harus diberi penghargaan bukan?
Sempat khawatir si kakak mogok ikut outbond, ternyata hingga hari keberangkatannya antusiasme itu tidak surut. Aku bersyukur semoga si Kakak benar benar menikmati outbond pertamanya. Pulang sekolah kusambut si kakak dengan antusias dan penasaran. Kunanti cerita serunya...atau malah cerita ketakutannya?? “Gimana kak, seru outbondnya..?” tanyaku penuh semangat sembari membantu melepas tas, sepatu dan bajunya. Nampaknya si kakak sangat kelelahan. “ Seru Bun,..” matanya berbinar memandangku. “Kakak nggak takut lagI...?” lanjutku penuh selidik. “Nggak dong Bun, malu sama akhwat....masak kakak kalah sama mereka”. Lalu mengalirlah cerita seru pengalaman outbondnya. Bahasa kanak kanaknya yang polos dan lugu membuatku senyum senyum sendiri. Aneka permainan outbond diikuti semua oleh si kakak, dari meniti balok, merayap, melompat , memanjat, meluncur hingg ditutup dengan acara memandikan kerbau dan mencari belut di kolam. “Seru Bun...kita mandiin kerbaunya rame rame, kasian kerbaunya pasti kedinginan. Lebih seru lagi pas lomba menangkap belut...wuihhh licin nya belut itu. Kakak ngga bisa nangkep. Mana lumpurnya dalem...” upsttt karena fokus pada outbond si kakak baru teringat, bagaimana dengan bajunya???
 “ Trus baju kakak gimana..?” tanyaku sedikit berdebar “ Ya kotor lah Bunda....maaf, kotorrr banget. Soalnya kakak tadi nyemplung ke sawah dan ke kolam. Seru! Kalau akhwatnya pada ngga berani Bun, mereka cuma jerit jerit geli liat belut”. Buru buru kukeluarkan plastik berisi baju kotor dari tas sekolahnya....taa raaa...masya Allah baju kakak super duper kotornya!!! . Antara emosi jengkel, gembira dan bangga menyatu........tapi aku sadar itu sudah resiko. Keberanian si kakak untuk mengikuti outbond, keceriaan dan kegembiraannya mengalahkan 'sekedar' baju kotor yang menjadi bagianku selanjutnya.
 “Nanti kalau kelas 2 kakak mau ikut outbond lagi yang lebih seru Bunda”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar